Semarang, 27 April 2026 — Perkumpulan Pengusaha Kerupuk Udang Berkelanjutan Indonesia (PKUBI) melangkah lebih dekat menuju praktik perikanan udang skala kecil yang berkelanjutan melalui inisiatif Fishery Improvement Program (FIP) yang didukung oleh MSC. Penyerahan dana Ocean Stewardship Fund (OSF) senilai US$ 60.000 menjadi pemicu penting untuk memperkuat kapasitas nelayan kecil, penguatan data, dan penerapan mekanisme ketertelusuran yang memenuhi standar pasar ekspor.

Tujuan Strategis dan Hasil yang Diharapkan
Acara FIP towards MSC Certification for PKUBI yang berlangsung di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah menghadirkan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat (Kementerian Kelautan dan Perikanan-KKP) dan daerah, akademisi, NGO, pelaku industri, serta perwakilan nelayan. Tujuan utama pertemuan ini adalah menyelaraskan visi dan implementasi FIP, menyinkronkan peran pemangku kepentingan, serta merumuskan peta jalan (roadmap) untuk tahapan selanjutnya menuju penilaian penuh (full assessment) MSC. Setelah pemberian sambutan dilanjutkan penyerahan simbolis penyerahan dana OSF kepada PKUBI sebesar US$ 60.000,- yang disaksikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah dan Perwakilan DKP Kalimantan Selatan.
Dana Ocean Stewardship Fund (OSF) dan peran PKUBI serta KOLEKTIF MSC menyalurkan dana OSF 2026 sebesar US$ 60.000 untuk mendukung program perbaikan perikanan udang skala kecil di Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan. Dana ini diarahkan untuk memperkuat kegiatan FIP, termasuk penguatan kapasitas nelayan, penguatan data ilmiah, dan penerapan praktik penangkapan yang ramah lingkungan agar produk dapat memenuhi persyaratan pasar Uni Eropa dan pasar ekspor lainnya. PKUBI, sebagai organisasi yang menaungi industri kerupuk udang, telah bekerja sejak 2016 untuk membina nelayan agar menerapkan alat tangkap ramah lingkungan, pembinaan nelayan dan pencatatan hasil tangkapan.
Progres FIP: Capaian dan Indikator Kinerja Jawa Tengah
FIP udang skala kecil Jawa Tengah berjalan sejak 2020; skor Benchmarking and Tracking Tool (BMT) saat ini 0,56. Kegiatan yang sudah dilakukan meliputi pembentukan Pokja pengelolaan udang, monitoring data tangkapan, sosialisasi hak nelayan dan ETP, pelatihan literasi keuangan, sertifikasi keterampilan nelayan, serta pendampingan penelitian. Kalimantan Selatan FIP Kalsel berjalan sejak 2017; skor BMT saat ini 0,46. Fokus kegiatan: kolaborasi penelitian antar perguruan tinggi, pembentukan tim kerja bersama, pelatihan keselamatan dan kepatuhan operasional kapal, serta upaya peningkatan kepatuhan administrasi kapal.
Tantangan Teknis dan Ilmiah yang Perlu Ditindaklanjuti
Dari hasil pertemuan ini, beberapa tantangan utama yang perlu ditindaklanjuti sebelum menuju full assessment MSC: Kekurangan data stok: belum ada estimasi biomassa untuk Maximum Sustainable Yield (MSY) dan indikator stok yang memadai. Keterbatasan monitoring strategi tangkap: strategi penangkapan belum termonitor secara sistematis; belum ada Harvest Control Rule yang jelas. Dampak terhadap spesies non-target dan ETP: perlu mekanisme untuk mengurangi interaksi dengan spesies terancam dan mengatasi isu jaring hilang (ghost fishing). Kebutuhan penelitian biologis: studi DNA, sampling biologi, dan kajian pemijahan serta area asuhan diperlukan untuk menyusun harvest strategy yang berbasis bukti. Teknologi dan Ketertelusuran: E-Logbook dan Peran Pelabuhan Penerapan e-logbook ver.3 oleh KKP menjadi salah satu solusi kunci untuk meningkatkan kualitas data tangkapan nelayan kecil. Fitur yang sedang dikembangkan meliputi identifikasi ikan otomatis (saat ini 25 jenis dalam integrasi), pemantauan posisi kapal secara near real-time, pelacakan trip, dan estimasi jumlah tangkapan di laut. Integrasi data tangkapan ke e-logbook diharapkan menjadi percontohan pencatatan perikanan skala kecil sesuai arahan pemerintah pusat. Di sisi kepelabuhan, mekanisme Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI) dan Certification of Admissibility (CoA) menjadi instrumen penting untuk ketertelusuran dan akses pasar, termasuk persyaratan ekspor ke Amerika Serikat dan Uni Eropa. Penguatan prosedur pelabuhan dan lembar awal tangkapan akan mendukung transparansi rantai pasok.
Rencana Aksi Implementasi FIP Udang Skala Kecil
Setelah pertemuan tersebut, para pemangku kepentingan sepakat untuk terus memperkuat koordinasi dan implementasi sepanjang tahun 2026 sebagai bagian dari proses Fishery Improvement Project (FIP) udang yang sedang berjalan. Melalui PKUBI, anggota industri dan para mitra akan bekerja secara kolaboratif untuk memperkuat pengelolaan perikanan, meningkatkan sistem data dan tata kelola, serta mempersiapkan kesiapan menuju full assessment oleh Marine Stewardship Council, dengan target memulai proses full assessment pada akhir tahun 2026. Proses ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi jangka panjang antara industri, pemerintah, dan organisasi pendukung dalam membangun perikanan udang Indonesia yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Aksi Lokal untuk Dampak Global
Kegiatan FIP yang didukung dana OSF dari MSC membuka peluang nyata bagi nelayan kecil dan pelaku industri kerupuk udang untuk memasuki pasar ekspor dengan standar keberlanjutan yang diakui internasional. Kegiatan traceability merupakan proses penting untuk mengoptimalkan pendataan dan mendapatkan informasi terkait pengelolaan perikanan berkelanjutan. Integrasi data ke e-logbook dan kolaborasi multi-stakeholder menjadi kunci agar manfaat ekonomi dan ekologi dapat dirasakan secara berkelanjutan. KOLEKTIF akan terus mendampingi proses ini sebagai konsultan teknis dan fasilitator kolaborasi. Kami mengajak semua pemangku untuk memperkuat komitmen bersama: memperbaiki praktik penangkapan, memperkuat data ilmiah, dan membangun rantai pasok yang transparan demi masa depan perikanan udang yang berkelanjutan.


Leave a Reply