KOLEKTIF FIP Indonesia

Pelatihan Teknis Pelaku FIP Indonesia Perkuat Kolaborasi Menuju Perikanan Berkelanjutan

Upaya memperkuat praktik perikanan berkelanjutan di Indonesia terus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif. Komitmen ini tercermin dalam Pelatihan Teknis Pelaku Fisheries Improvement Project (FIP Indonesia) yang diselenggarakan oleh KOLEKTIF dengan dukungan dari Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, pada Selasa 18 November 2025, di Denpasar, Bali.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan FIP Indonesia, mulai dari organisasi non-pemerintah (NGO), asosiasi industri perikanan, unsur pemerintah pusat dan daerah, hingga akademisi dari sejumlah perguruan tinggi. Pelatihan menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas teknis pelaku FIP Indonesia sekaligus membangun jejaring nasional lintas wilayah dan sektor.

Pelatihan dibuka secara resmi melalui sambutan dari KOLEKTIF, MSC Indonesia, dan DKP Provinsi Bali. Dalam pembukaan tersebut, para pihak menegaskan pentingnya FIP Indonesia sebagai pendekatan strategis untuk menjembatani standar keberlanjutan global dengan praktik pengelolaan perikanan di tingkat lokal.

Suasana interaktif langsung terbangun melalui sesi ice breaking Bingo Game yang mendorong peserta saling mengenal, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi sebelum memasuki sesi inti pelatihan.

Memasuki sesi utama, peserta mendapatkan pengantar mengenai gambaran umum FIP Indonesia serta tantangan implementasinya di lapangan. MSC Indonesia memaparkan prinsip-prinsip keberlanjutan perikanan dan standar MSC, sementara KOLEKTIF menjelaskan FIP sebagai proses perbaikan bertahap yang melibatkan nelayan, industri, pemerintah, dan lembaga pendukung lainnya.

Pembelajaran kemudian diperdalam melalui simulasi studi kasus FIP (Prinsip 1, Prinsip 2, dan Prinsip 3) dari berbagai komoditas unggulan Indonesia, seperti kakap–kerapu, lemuru, gurita, cumi, udang, dan tuna. Diskusi kelompok mengangkat isu-isu nyata yang sering dihadapi dalam implementasi FIP Indonesia, termasuk keterbatasan data, perlindungan habitat, bycatch, serta tantangan harmonisasi kebijakan. Dari proses ini, peserta belajar memetakan masalah, merumuskan solusi, dan mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci.

Pada sesi selanjutnya, peserta diajak melakukan pemetaan stakeholder yang akan dirangkum dalam Quick Reference Guide (QRG). Panduan ini diharapkan menjadi alat praktis bagi pelaku FIP Indonesia untuk mengetahui lembaga rujukan yang relevan sesuai isu yang dihadapi, sehingga koordinasi dan penyelesaian masalah dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Sebagai penutup, peserta merumuskan rencana tindak lanjut sekaligus menyepakati inisiasi Jejaring Nasional Pelaku FIP Indonesia. Jejaring ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan, koordinasi, dan pembelajaran bersama, serta memperkuat suara kolektif pelaku FIP dalam mendorong perikanan Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Pelatihan ini mendapat respons sangat positif dari peserta. Mereka menilai kegiatan berlangsung interaktif, relevan dengan kebutuhan lapangan, serta membuka peluang kolaborasi lintas wilayah dan lembaga. Ke depan, KOLEKTIF bersama para mitra berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat implementasi FIP Indonesia dan mendorong masa depan perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *